Kelahiran
Pangeran Siddharta dilahirkan pada tahun 563 SM di Taman Lumbini, saat Ratu Maha Maya berdiri memegang dahan pohon sala.
Pada saat ia lahir, dua arus kecil jatuh dari langit, yang satu dingin
sedangkan yang lainnya hangat. Arus tersebut membasuh tubuh Siddhartha.
Siddhartha lahir dalam keadaan bersih tanpa noda, berdiri tegak dan
langsung dapat melangkah ke arah utara, dan tempat yang dipijakinya
ditumbuhi bunga teratai.
Oleh para pertapa di bawah pimpinan Asita Kaladewala, diramalkan bahwa Pangeran kelak akan menjadi seorang Chakrawartin (Maharaja Dunia) atau akan menjadi seorang Buddha.
Hanya pertapa Kondañña yang dengan tegas meramalkan bahwa Pangeran
kelak akan menjadi Buddha. Mendengar ramalan tersebut Sri Baginda
menjadi cemas, karena apabila Pangeran menjadi Buddha, tidak ada yang
akan mewarisi tahta kerajaannya. Oleh pertanyaan Raja, para pertapa itu
menjelaskan agar Pangeran jangan sampai melihat empat macam peristiwa.
Bila tidak, ia akan menjadi pertapa dan menjadi Buddha. Empat macam
peristiwa itu adalah:
- Orang tua,
- Orang sakit,
- Orang mati,
- Seorang pertapa.
Masa kecil
Sejak kecil sudah terlihat bahwa Pangeran adalah seorang anak yang cerdas dan sangat pandai, selalu dilayani oleh pelayan-pelayan dan dayang-dayang yang masih muda dan cantik rupawan di istana yang megah dan indah. Pada saat berusia 7 tahun, Pangeran Siddharta mempunyai 3 kolam bunga teratai, yaitu:- Kolam Bunga Teratai Berwarna Biru (Uppala)
- Kolam Bunga Teratai Berwarna Merah (Paduma)
- Kolam Bunga Teratai Berwarna Putih (Pundarika)
- Istana Musim Dingin (Ramma)
- Istana Musim Panas (Suramma)
- Istana Musim Hujan (Subha)
Masa dewasa
Kata-kata pertapa Asita
membuat Raja Suddhodana tidak tenang siang dan malam, karena khawatir
kalau putra tunggalnya akan meninggalkan istana dan menjadi pertapa,
mengembara tanpa tempat tinggal. Untuk itu Baginda memilih banyak
pelayan untuk merawat Pangeran Siddharta, agar putra tunggalnya
menikmati hidup keduniawian. Segala bentuk penderitaan berusaha
disingkirkan dari kehidupan Pangeran Siddharta, seperti sakit, umur tua,
dan kematian, sehingga Pangeran hanya mengetahui kenikmatan duniawi.
Suatu hari Pangeran Siddharta meminta izin untuk berjalan di luar
istana, dimana pada kesempatan yang berbeda dilihatnya "Empat Kondisi"
yang sangat berarti, yaitu orang tua, orang sakit, orang mati dan orang
suci. Pangeran Siddhartha bersedih dan menanyakan kepada dirinya
sendiri, "Apa arti kehidupan ini, kalau semuanya akan menderita sakit,
umur tua dan kematian. Lebih-lebih mereka yang minta pertolongan kepada
orang yang tidak mengerti, yang sama-sama tidak tahu dan terikat dengan
segala sesuatu yang sifatnya sementara ini!". Pangeran Siddharta
berpikir bahwa hanya kehidupan suci yang akan memberikan semua jawaban
tersebut.
Selama 10 tahun lamanya Pangeran Siddharta hidup dalam kesenangan
duniawi. Pergolakan batin Pangeran Siddharta berjalan terus sampai
berusia 29 tahun, tepat pada saat putra tunggalnya Rahula
lahir. Pada suatu malam, Pangeran Siddharta memutuskan untuk
meninggalkan istananya dan dengan ditemani oleh kusirnya, Canna.
Tekadnya telah bulat untuk melakukan Pelepasan Agung dengan menjalani
hidup sebagai pertapa.
Setelah itu Pangeran Siddhartha meninggalkan istana, keluarga, kemewahan, untuk pergi berguru mencari ilmu sejati yang dapat membebaskan manusia dari usia tua, sakit dan mati.
Pertapa Siddharta berguru kepada Alāra Kālāma dan kemudian kepada
Uddaka Ramāputra, tetapi tidak merasa puas karena tidak memperoleh yang
diharapkannya. Kemudian beliau bertapa menyiksa diri dengan ditemani
lima orang pertapa. Akhirnya beliau juga meninggalkan cara yang ekstrem
itu dan bermeditasi di bawah pohon Bodhi untuk mendapatkan Penerangan
Agung.
Masa pengembaraan
Didalam pengembaraannya, pertapa Gautama mempelajari latihan pertapaan dari pertapa Bhagava dan kemudian memperdalam cara bertapa dari dua pertapa lainnya, yaitu pertapa Alara Kalama dan pertapa Udraka Ramputra.
Namun setelah mempelajari cara bertapa dari kedua gurunya tersebut,
tetap belum ditemukan jawaban yang diinginkannya. Sehingga sadarlah
pertapa Gautama bahwa dengan cara bertapa seperti itu tidak akan
mencapai Pencerahan Sempurna. Kemudian pertapa Gautama meninggalkan kedua gurunya dan pergi ke Magadha untuk melaksanakan bertapa menyiksa diri di hutan Uruwela, di tepi Sungai Nairanjana yang mengalir dekat Hutan Gaya. Walaupun telah melakukan bertapa menyiksa diri selama enam tahun di Hutan Uruwela, tetap pertapa Gautama belum juga dapat memahami hakikat dan tujuan dari hasil pertapaan yang dilakukan tersebut.
Pada suatu hari pertapa Gautama dalam pertapaannya mendengar seorang
tua sedang menasihati anaknya di atas perahu yang melintasi sungai
Nairanjana dengan mengatakan:
| “ | Bila senar kecapi ini dikencangkan, suaranya akan semakin tinggi. Kalau terlalu dikencangkan, putuslah senar kecapi ini, dan lenyaplah suara kecapi itu. Bila senar kecapi ini dikendorkan, suaranya akan semakin merendah. Kalau terlalu dikendorkan, maka lenyaplah suara kecapi itu. | ” |
Nasehat tersebut sangat berarti bagi pertapa Gautama yang akhirnya
memutuskan untuk menghentikan tapanya lalu pergi ke sungai untuk mandi.
Badannya yang telah tinggal tulang hampir tidak sanggup untuk menopang
tubuh pertapa Gautama. Seorang wanita bernama Sujata memberi pertapa
Gautama semangkuk susu. Badannya dirasakannya sangat lemah dan maut
hampir saja merenggut jiwanya, namun dengan kemauan yang keras membaja,
pertapa Gautama melanjutkan samadhinya di bawah pohon bodhi (Asetta) di Hutan Gaya, sambil ber-prasetya,
"Meskipun darahku mengering, dagingku membusuk, tulang belulang jatuh
berserakan, tetapi aku tidak akan meninggalkan tempat ini sampai aku
mencapai Pencerahan Sempurna."
Perasaan bimbang dan ragu melanda diri pertapa Gautama, hampir saja
Beliau putus asa menghadapi godaan Mara, setan penggoda yang dahsyat.
Dengan kemauan yang keras membaja dan dengan iman yang teguh kukuh,
akhirnya godaan Mara dapat dilawan dan ditaklukkannya. Hal ini terjadi
ketika bintang pagi memperlihatkan dirinya di ufuk timur.
Pertapa Gautama telah mencapai Pencerahan Sempurna dan menjadi
Samyaksam-Buddha (Sammasam-Buddha), tepat pada saat bulan Purnama Raya
di bulan Waisak ketika ia berusia 35 tahun (menurut versi Buddhisme Mahayana, 531 SM pada hari ke-8 bulan ke-12, menurut kalender lunar.
Versi WFB, pada bulan Mei tahun 588 SM). Pada saat mencapai Pencerahan
Sempurna, dari tubuh Siddharta memancar enam sinar Buddha (Buddharasmi)
dengan warna biru yang berarti bhakti; kuning mengandung arti kebijaksanaan dan pengetahuan; merah yang berarti kasih sayang dan belas kasih; putih mengandung arti suci; jingga berarti giat; dan campuran kelima sinar tersebut.
